Hikmah

Adab Menjaga Lisan: Tuntunan Berkata Baik atau Diam

Adab Menjaga Lisan: Tuntunan Berkata Baik atau Diam

wahdahsulsel.or.id - “Mulutmu Harimaumu” atau “Lidah itu tajam laksana pedang” ungkapan yang mungkin tidak asing lagi bagi kita, menyiratkan akan pesan bahwa mulut dan lidah yang dzahirnya adalah organ yang tak bertulang tapi memiliki bahaya seganas harimau atau bisa melukai sebagaimana pedang tajam jika ia tidak dipergunakan dengan hati-hati dan bijak.

Bila lidah tak terkendali, dibiarkan berucap sekehendaknya, alamat kesengsaraan akan segera menjelang. Sebaliknya bila ia terkelola dengan baik , hemat dalam berkata, dan memilih perkataan yang baik-baik, maka sebuah alamat akan datangnya banyak kebaikan.

Lisan mempunyai kedudukan yang tinggi di dalam Islam. Melalui lisan, orang yang awalnya kafir bisa menjadi muslim yaitu dengan ucapan dua kalimat syahadahnya. Melalui lisan pula, orang yang awalnya adalah seorang muslim bisa menjadi kafir.

Dari ia Abu Hurairah bahwasanya ia mendengar Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata,

إن العبد يتكلم بالكلمة ما يتبين فيها يزل بها إلى النار أبعد مما بين المشرق والمغرب

“Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan satu kata yang dia tidak tahu apakah itu baik atau buruk, ternyata menggelincirkannya ke dalam neraka lebih jauh dari antara timur dan barat”. (HR Bukhari & Muslim)

Lisan Pembawa Kekafiran

Banyak orang yang memiliki persepsi bahwa ucapan-ucapan yang mengandung kekafiran, seperti mencela Allah atau Rasulullah, atau mencela agama dan semisalnya, tidaklah menjadi sebab pelakunya kafir keluar dari Islam, selama di dalam hatinya masih ada keimanan. Anggapan ini tentu saja keliru karena bertentangan dengan nash dan apa yang telah ditetapkan ahlul ilmi. Allah berfirman:

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِيْنَ قَالُوْٓا اِنَّ اللّٰهَ هُوَ الْمَسِيْحُ ابْنُ مَرْيَمَ

“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: ‘Sesungguhnya Allah itu ialah Al-Masih putera Maryah’.” (Al-Ma`idah: 17)

Ibnu Taimiyyah juga menjelaskan terkait orang yang sengaja mengucapkan perkataan kufur dari lisannya, beliau berkata:

“Barangsiapa mengucapkan perkataan kufur dengan lisannya, dalam keadaan sengaja dan tahu bahwa itu adalah ucapan kufur, maka ia telah kafir lahir dan batin. Tidak boleh bagi kita terlalu berlebihan sehingga harus dikatakan: ‘Mungkin saja dalam hatinya ia mukmin’. Siapa yang mengucapkan (kekufuran) itu, maka sungguh dia telah keluar dari Islam.”

Canda Berujung Petaka

Perkataan yang dianggap dan dengan niat bercanda saja bisa menyeret pelakunya pada kekafiran apalagi jika perkataan tersebut dilisankan dengan serius dan niat awalnya memang untuk mengolok-olok ataupun meremehkan agama Allah.

Dalam sebuah riwayat dikisahkan, bahwa pada suatu perjalanan perang tabuk, ada orang di dalam rombongan tersebut yang berkata, "Kami tidak pernah melihat seperti para ahli baca Al-Qur’an ini (yaitu Rasulullah dan para sahabat beliau), kecuali sebagai orang yang paling buncit perutnya, yang paling dusta ucapannya dan yang paling pengecut tatkala bertemu dengan musuh."

Mendengar hal ini, Auf bin Malik berkata kepada orang tersebut, "Engkau dusta, kamu ini munafik. Akan aku laporkan ucapanmu ini kepada Rasulullah.”

Maka Auf bin Malik pun pergi menghadap Rasulullah. Namun sebelum Auf sampai, wahyu telah turun kepada beliau tentang peristiwa itu.

Kemudian orang yang bersendau gurau dengan menjadikan Rasulullah sebagai bahan bercanda mendatangi Rasulullah yang saat itu sudah berada di atas untanya.

Orang tadi berkata, "Wahai Rasulullah, kami tadi hanyalah bersendau gurau, kami lakukan itu hanyalah untuk menghilangkan kepenatan dalam perjalanan sebagaimana hal ini dilakukan oleh orang-orang yang berada dalam perjalanan!"

Abdullah bin Umar yang juga berada dalam rombongan itu kemudian bercerita, "Sepertinya aku melihat ia berpegangan pada tali pelana unta Rasulullah sedangkan kakinya tersandung-sandung batu sembari mengatakan, ‘Kami tadi hanyalah bersendau gurau dan bermain-main saja.’

Kemudian Rasulullah berkata kepadanya dengan membacakan firman Allah,

"Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok? Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu telah kafir sesudah beriman." (At-Taubah: 65-66).

Beliau mengucapkan itu tanpa berpaling kepada orang tersebut dan beliau juga tidak bersabda lebih dari itu." (HR.Ibnu Abi Hatim dengan sanad yang hasan)

Kapan Bicara, Kapan Diam

Di saat kita hendak berkata-kata, tentunya kita harus berpikir untuk memilihkan hal-hal yang baik untuk lidah kita. Bila sulit mendapat kata yang indah dan tepat maka lebih baik diam.

Inilah realisasi dari sabda Rasulullah:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

"Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya ia berkata yang baik atau diam” (HR Bukhari & Muslim)

Jadi, hadits ini mengandung dua poin

Pertama: perintah untuk mengatakan yang baik, yaitu sesuatu yang diridhai Allah. Menurut al-Munawi, hadits ini memberi faedah bahwa perkataan yang baik itu lebih dikedepankan daripada diam karena perintah itu disebutkan lebih dulu.

Kedua: perintah untuk diam, yaitu perintah untuk tidak mengatakan yang buruk, yang dibenci atau dimurkai oleh Allah.

Akhirnya, kita memohon kepada Allah untuk senantiasa membimbing amalan-amalan kita termasuk dalam menjaga lisan-lisan dari perkataan-perkataan yang tidak bermanfaat terlebih apa yang Dia murkai yang pada akhirnya bisa menyeret kita kepada neraka-Nya.


Share Postingan :
Sebelumnya :
Dengarkan Streaming Online

 Radio Wahdah

Dakwah - Pendidikan - Sosial - Kesehatan

Ormas Islam Bermanhaj Ahlussunnah Wal Jamaah

Profil


DPW Wahdah Islamiyah Sulsel

Jl. Antang Raya
Ruko Antang Business Center (ABC) No. 4
Kec. Manggala, Kota Makassar
Sulawesi Selatan 90234, Indonesia
Telp. +62 821-4777-1717
Makassar - Indonesia 90234
E-Mail : admin@wahdah.or.id