Hikmah

Stop 'Kepo' dan 'Julid', Ini Janji Allah Bagi Orang yang Menutupi Aib Saudaranya

Stop 'Kepo' dan 'Julid', Ini Janji Allah Bagi Orang yang Menutupi Aib Saudaranya

wahdahsulsel.or.id - Akhir-akhir ini, setiap kali buka media sosial, rasanya fokus kita gampang sekali teralihkan, oleh berita dan komentar-komentar netizen terkait rekam jejak seseorang dimasa lalu.

Beranda kita dipenuhi dengan keramaian yang kurang sehat, tren saling membongkar aib masa lalu, mengorek jejak digital, hingga membeberkan urusan personal orang lain ke ranah publik.

Tanpa sadar, 'kepo' terhadap kesalahan orang dan menjadikannya bahan "julid" bersama seolah sudah menjadi hal yang lumrah ditengah masyarakat. Seolah ada yang kurang dari obrolan bisa tak ada segmen ghibah di dalamnya.

Padahal, kalau kita mau berhenti sejenak dan merenungkan, kebiasaan ini sangat merusak. Islam sendiri sudah memberikan peringatan yang sangat tegas sejak belasan abad lalu.

Coba kita merenungkan sebuah firman dalam Surat Al-Hujurat ayat 12. Di sana Allah berpesan:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّ ۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًا

"Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak prasangka! Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain." (Al Hujurat: 12)

Ada logika yang sangat indah dalam susunan ayat ini. Mengapa Al-Qur'an mendahulukan larangan kepo, menyadap, atau mencari-cari kesalahan (tajassus) sebelum melarang ghibah? Jawabannya sangat sederhana: ghibah tidak akan pernah terjadi kalau kita tidak punya bahannya.

Kalau jemari dan telinga kita tidak sibuk mengorek-ngorek informasi kehidupan orang lain, kita tidak akan punya topik untuk digunjingkan.

"Tapi kan, semua itu fakta!"

Kita sering melihat orang membela diri dengan berkomentar, "Lho, saya kan hanya ngomongin fakta, ada buktinya, bukan hoaks!"

Nah, pembenaran semacam ini sudah pernah dijawab oleh Rasulullah. Imam Muslim meriwayatkan, bahwa Rasulullah menjelaskan bahwa ghibah adalah membicarakan sesuatu yang tidak disukai oleh saudaramu.

Seorang sahabat yang penasaran kemudian bertanya, "Bagaimana kalau yang kita bicarakan itu memang fakta, dan itu ada pada dirinya?"

Jawaban Rasulullah sangat menohok: "Jika yang kamu katakan itu fakta, berarti kamu sedang ghibah. Dan jika itu tidak benar, berarti kamu sedang memfitnahnya."

Jadi, meskipun itu sebuah fakta, jika tujuan kita untuk menguliti dan menjatuhkan kehormatan seseorang, itu tetaplah ghibah.

Lalu, kita harus bagaimana?

Di era arus informasi yang begitu deras, terkadang berita buruk tentang seseorang lewat begitu saja di beranda. Jika sudah telanjur, solusi terbaiknya adalah membiarkan informasi itu berhenti di kita.

Tidak perlu ikut menyebarkan, membagikan, atau bahkan meninggalkan komentar panas.

Allah mengibaratkan orang yang suka menggunjing itu layaknya seseorang yang memakan daging saudaranya sendiri yang sudah mati.

اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُ

"Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik." (Al Hujurat: 12)

Perumpamaan  ini seharusnya sudah cukup membuat akal sehat kita merasa jijik dan menjadi pola agar kita menjauhi ghibah dan julid tadi.

Di tengah situasi ini, mari kita ambil napas sejenak dan menahan jemari kita. Berhenti berlagak seperti detektif. Hentikan kebiasaan mencari rekam jejak digital atau masa lalu orang lain hanya untuk kepuasan.

Jadilah orang yang pandai menjaga rahasia. Ketika kita mengetahui keburukan orang lain, tutupi hal tersebut rapat-rapat.

Dan diantara langkah penting. Mulailah membatasi diri dari tongkrongan atau grup yang isinya hanya membicarakan aib dan skandal orang lain.

Ketimbang menghabiskan waktu menguliti kesalahan orang yang belum tentu lebih buruk dari kita, jauh lebih baik kita sibuk memperbaiki diri sendiri.

Lagipula, ada janji dari Rasulullah:

وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِماً سَتَرَهُ اللهُ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ

"Barangsiapa yang menutupi aib seorang muslim, Allah akan tutupi aibnya di dunia dan akhirat." (HR. Muslim No. 2699)

Kita semua punya masa lalu, kelemahan, dan dosa. Bayangkan saja, sekiranya hari ini Allah membongkar aib dan jejak digital kita sendiri, sanggupkah kita menanggung malunya?

Penulis: Muh. Taqiyuddin

Share Postingan :
Sebelumnya :
Dengarkan Streaming Online

 Radio Wahdah

Dakwah - Pendidikan - Sosial - Kesehatan

Ormas Islam Bermanhaj Ahlussunnah Wal Jamaah

Profil


DPW Wahdah Islamiyah Sulsel

Jl. Antang Raya
Ruko Antang Business Center (ABC) No. 4
Kec. Manggala, Kota Makassar
Sulawesi Selatan 90234, Indonesia
Telp. +62 821-4777-1717
Makassar - Indonesia 90234
E-Mail : admin@wahdah.or.id